Kenapa Sebaiknya Dokumen Perencanaan Tidak Menggunakan Foto dari Tokoh Tertentu?

Di banyak daerah, dokumen perencanaan pembangunan—seperti RPJMD, Renstra, atau RKPD—sering menampilkan foto kepala daerah atau tokoh tertentu di sampul atau halaman awal. Alasannya beragam: ingin menunjukkan kepemimpinan, memberi sentuhan personal, atau sekadar mengikuti kebiasaan lama. Namun, jika kita melihat dari perspektif profesionalisme, keberlanjutan, dan akuntabilitas publik, kebiasaan ini sebenarnya punya lebih banyak risiko daripada manfaatnya.



1. Dokumen Perencanaan Bersifat Jangka Panjang, Tokoh Bersifat Sementara

Dokumen seperti RPJMD berlaku 5 tahun, bahkan ada visi pembangunan jangka panjang hingga 20 tahun. Sementara jabatan kepala daerah atau tokoh publik sifatnya sementara—bisa berganti karena akhir masa jabatan, rotasi, atau pergantian kebijakan.
Jika foto tokoh tertentu terpasang, maka ketika terjadi pergantian kepemimpinan, dokumen itu akan terasa “usang” meski substansinya masih relevan. Akibatnya, masyarakat atau pihak teknis kadang enggan merujuk dokumen yang menampilkan wajah “era sebelumnya”.

2. Menghindari Kesan Politisasi Dokumen Teknis

Perencanaan pembangunan adalah kerja kolektif: ada tim perencana, OPD, akademisi, masyarakat, dan lembaga legislatif yang terlibat. Menampilkan satu tokoh di dokumen berpotensi menimbulkan kesan bahwa rencana tersebut “milik” individu, bukan hasil musyawarah bersama.
Kesan politisasi ini bisa mereduksi nilai objektivitas dan kredibilitas isi dokumen, padahal esensinya adalah menjadi panduan pembangunan untuk semua warga, bukan untuk kepentingan elektoral.

3. Fokus pada Isi, Bukan Figur

Desain dokumen sebaiknya mengarahkan perhatian pembaca ke data, analisis, dan arah kebijakan—bukan ke figur di sampul. Penggunaan infografis, ilustrasi tematik, atau foto yang merepresentasikan pembangunan (infrastruktur, layanan publik, kondisi sosial-ekonomi) akan jauh lebih relevan dan informatif.
Fokus pada isi juga membantu pembaca melihat bahwa pembangunan adalah proses berkelanjutan yang tidak tergantung pada satu orang saja.

4. Efisiensi Biaya dan Kemudahan Revisi

Saat foto tokoh dipasang di halaman awal, setiap pergantian pemimpin atau revisi dokumen sering memerlukan biaya tambahan untuk mencetak ulang hanya karena visual dianggap sudah tidak relevan. Padahal, jika desainnya netral dan bebas figur, revisi bisa dilakukan tanpa mengubah keseluruhan tampilan.

5. Memperkuat Identitas Kelembagaan, Bukan Personal

Dokumen resmi pemerintah seharusnya memperkuat citra institusi, bukan individu. Menampilkan lambang daerah, warna identitas, atau simbol-simbol yang menggambarkan misi daerah akan menegaskan bahwa pembangunan adalah tanggung jawab bersama, terlepas dari siapa yang memimpin.


Kesimpulan:
Menghapus foto tokoh tertentu dari dokumen perencanaan bukan berarti mengabaikan peran pemimpin. Penghargaan kepada mereka bisa diberikan di forum resmi, sambutan, atau publikasi yang memang bersifat personal. Namun, untuk dokumen teknis perencanaan, desain yang netral, fokus pada isi, dan bebas dari personifikasi justru akan menjaga keberlanjutan, profesionalisme, dan kredibilitas dokumen itu sendiri.

Masa depan pembangunan terlalu penting untuk dibingkai hanya dalam satu wajah. Mari biarkan dokumen perencanaan menjadi milik semua, untuk semua. Kenapa tidak menggunakan ilustrasi yang menggambarkan visi, potensi daerah atau infrastruktur yang akan kita bangun? Atau mungkin menggunakan ilustrasi sesuai tema dan prioritas periode perencanaan tersebut dibuat?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Kenapa Penguasa Lebih Senang Dikelilingi Orang Loyal daripada Orang Kompeten?

Kenapa Proses Perubahan RKPD berbeda dengan RKPD Tahunan?

Mengapa Indikator Kinerja Sangat Diperlukan dalam Perencanaan